KARAKTERISTIK CURAH HUJAN ABAD 20 DI JAKARTA BERDASARKAN KEJADIAN IKLIM GLOBAL

Danang Eko Nuryanto

Abstract


Variabilitas iklim di Benua Maritim Indonesia (BMI) dipengaruhi oleh dinamika iklim global maupun regional terutama yang terkait dengan fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO), Indian Ocean Dipole (IOD) dan sistem sirkulasi monsun Asia-Australia. Untuk mempelajari bagaimana pola curah hujan di Jakarta pada waktu terjadi fenomena global tersebut, maka pada penelitian kali ini telah dilakukan analisis kuartil. Analisis dilakukan dengan distribusi kuartil tahunan pada tahun-tahun normal yang dibandingkan dengan pada tahun-tahun aktifnya ENSO maupun IOD. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data curah hujan tahun 1901 hingga 2000 dari Stasiun Jakarta Observatori 745 sebelum pindah ke Kemayoran. Diperoleh hasil bahwa pada saat kejadian El Nino maupun DM+, distribusi curah hujan di Jakarta memiliki kemiripan pola yaitu saat JJA dan SON curah hujan menurun dan saat DJF dan MAM curah hujan meningkat. Sedangkan pada saat kejadian La nina distribusi curah hujan di Jakarta menunjukkan pola saat JJA dan SON curah hujan meningkat dan saat DJF dan MAM curah hujan cenderung tidak berbeda. Selanjutnya hasil studi ini juga menunjukkan bahwa DM+ mempunyai keterkaitan lebih kuat dibanding El Nino terhadap rendahnya curah hujan di Jakarta sekitar 5 mm hingga 84 mm pada saat JJA dan SON. Sedangkan El Nino mempunyai keterkaitan lebih kuat dibanding DM+ terhadap rendahnya curah hujan di Jakarta sekitar 8 mm hingga 168 mm pada saat DJF dan MAM.

 

Climate variability in the Indonesian Maritime Continent (IMC) is affected by global and regional climate dynamics, especially related to the El Nino Southern Oscillation (ENSO), Indian Ocean Dipole (IOD) and the Asian-Australian monsoon circulation system. In order to learn how the pattern of rainfall in Jakarta at the time of the global phenomenon, so in this study has been done quartile analysis. Analyses were performed with annual quartile distribution in normal years are compared with the active years of ENSO and IOD. In this study, the rainfall data in 1901 to 2000 from 745 Observatory Jakarta stations before moving to Kemayoran was used. The results obtained indicate that during El Nino events and DM+, the rainfall distribution in Jakarta have similar patterns, where rainfall decreases in JJA and SON and also rainfall increases in DJF and MAM. Furthermore, the results of this study also showed that compared with El Nino, DM+ is linked more strongly to low rainfall in Jakarta about 5 mm to 84 mm during JJA and SON. Whereas El Nino compared with DM+ is linked more strongly to low rainfall in Jakarta about 8 mm to 168 mm during DJF and MAM.


Keywords


ENSO, IOD, kuartil, benua maritim Indonesia



DOI: http://dx.doi.org/10.31172/jmg.v14i3.165

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


PUBLISHED BY:

Pusat Penelitian dan Pengembangan

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

» http://puslitbang.bmkg.go.id/jmg


Jurnal Meteorologi dan Geofisika

e-ISSN : 2527-5372

p-ISSN : 1411-3082

 

Address : 

Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720

» Phone : (+6221) 4246321 ext 1900

» Fax :(+6221) 65866238

Email Coordinatorthomas.hardy@bmkg.go.id


Plagiarism Tools

     

  Creative Commons License

Jurnal Meteorologi dan Geofisika is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

INDEXING

 

JMG Indexed by: