RESPON PERILAKU USAHATANI PADI TERHADAP RESIKO IKLIM EKSTRIM DAN SERANGAN OPT

Woro Estiningtyas, Adang Hamdani

Abstract


Posisi Indonesia di antara dua benua dan samudera merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kondisi iklimnya sangat dinamis dan kompleks. Kejadian iklim ekstrim seperti banjir, kekeringan dan serangan OPT juga menjadi bagian yang harus dihadapi oleh petani dalam keseharian usahataninya. Survey dan wawancara dilakukan di Kecamatan Sliyeg dan Cantigi, Kabupaten Indramayu dalam rangka mengetahui dinamika iklim serta respon dan adaptasi petani pada kejadian iklim ekstrim. Diantara banjir, kekeirngan dan OPT, kejadian kekeringan masih menjadi penyebab utama (70%) kerugian dan gagal panen sebagian besar petani padi di Kabupaten Indramayu. Kekeringan pada umumnya berlangsung selama 1-6 bulan. Identifikasi tahun terburuk selama periode 1992-2012 sebagian besar berhubungan dengan kejadian El-Nino, banjir dan OPT. Empat tahun terburuk di Kecamatan Cantigi adalah tahun 2012, 2011, 2010 dan 2009 , sedangkan di Kecamatan Sliyeg tahun 2012, 2007, 2008 dan 2003. Respon dan adaptasi petani terhadap kejadian iklim ekstrim antara lain dengan pompanisasi, sumur bor dan penggantian tanaman. Sebagian besar Petani belum memiliki cara untuk mengetahui kondisi kekeringan ke depan. Kearifan lokal masih diandalkan oleh petani dalam melihat dan memperkirakan kejadian alam terkait dengan usahataninya selain juga informasi dari instansi terkait seperti BMKG, Dinas dan juga penyuluh.

 

Indonesia's position between two continents and oceans is one of the factors that cause climate conditions very dynamic and complex. Extreme climate events such as floods, drought and pest attacks also become part of the situation that must be faced by farmers in farmer system. Surveys and interviews were conducted in Sliyeg and Cantigi Sub-district, Indramayu district to determine the dynamics of the climate as well as the response and adaptation of farmers to extreme climate events. Amongst floods, drought, and pests, it showed that drought event is still the main cause (70%) of harvest failure in Indramayu district. Drought generally lasts for 1-6 months. Identification of the worst year during the period 1992-2012 was largely due to El-Nino events, floods, and pests. Four worst extreme climate years in Cantigi are in 2012, 2011, 2010 and 2009, whilst in Sliyeg District are in 2012, 2007, 2008 and 2003. Response and adaptation of farmers to extreme climate events in those sub-districts were shown by pumping, drilling wells and replacement of the plants. Most of the farmers have not yet had a way to know the future drought conditions. Local wisdom is still relied upon by farmers to see and predict natural events associated with farming as well as information from relevant agencies such as BMKG, local Government and extension worker.

Keywords


iklim ekstrim;kekeringan;usahatani padi;respon;adaptasi



DOI: http://dx.doi.org/10.31172/jmg.v16i1.261

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


PUBLISHED BY:

Pusat Penelitian dan Pengembangan

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

» http://puslitbang.bmkg.go.id/jmg


Jurnal Meteorologi dan Geofisika

e-ISSN : 2527-5372

p-ISSN : 1411-3082

 

Address : 

Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720

» Phone : (+6221) 4246321 ext 1900

» Fax :(+6221) 65866238

Email Coordinatorthomas.hardy@bmkg.go.id


Plagiarism Tools

     

  Creative Commons License

Jurnal Meteorologi dan Geofisika is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

INDEXING

 

JMG Indexed by: