PENGUKURAN VS30 MENGGUNAKAN METODE MASW UNTUK WILAYAH YOGYAKARTA

M. Muzli, R. Pandhu Mahesworo, R. Madijono, Siswoyo Siswoyo, S. Pramono, K.R. Dewi, Budiarta Budiarta, O. Sativa, B. Sulistyo, R. Swastikarani, N. Oktavia, Moehajirin Moehajirin, N. Efendi, T.A. Wijaya, B. Subadyo, Mujianto Mujianto, Suwarto Suwarto, S. Pramono

Sari


Yogyakarta merupakan salah satu wilayah yang aktif gempabumi di Indonesia. Sumber gempabumi dapat berasal dari patahan lokal Opak di bagian timur ataupun zona subduksi pada bagian selatan Yogyakarta. Pembuatan peta mikrozonasi gempa sangat dibutuhkan untuk pertimbangan pembangunan infrastruktur atau bangunan yang tahan terhadap gempabumi. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak resiko yang mungkin ditimbulkan. Pada pertengahan tahun 2014 telah dilakukan pengukuran kecepatan gelombang geser (Vs30) di wilayah Yogyakarta khususnya wilayah Kabupaten Bantul dan Sleman. Pengukuran dilakukan terhadap 55 titik yang menyebar pada dua wilayah Kabupaten tersebut dengan jarak antar titik sekitar 1 sampai 5 km. Vs30 merupakan salah satu parameter yang digunakan dalam peta mikrozonasi. Pengukuran Vs30 dengan metode Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW) menggunakan 24 geofon komponen vertikal dengan frekuensi 4.5 Hz. Nilai Vs30 memberikan informasi klasifikasi tanah permukaan sampai pada kedalaman 30 meter. Hasil interpretasi nilai Vs30 menunjukkan bahwa pusat kota yaitu Kotamadya Yogyakarta memiliki resiko amplifikasi gelombang yang relatif besar dengan nilai Vs30 berkisar antara 115-175 m/s. Pembangunan di wilayah ini sangat disarankan untuk memperhatikan aturan yang memenuhi standard sesuai rujukan SNI 1726-2012. Pada sisi lain, wilayah yang memiliki tanah permukaan klasifikasi padat dengan nilai rata-rata Vs30 antara 350-480 m/s adalah Kecamatan Kretek, Sanden, Pandak dan Bambanglipuro. Wilayah ini memiliki potensi untuk pelemahan atau atenuasi gelombang sehingga resiko kerusakan akibat gempabumi relatif lebih kecil.

 

Yogyakarta region is one of a seismically active region in Indonesia. Earthquake source can be generatedfrom a local fault Opak in the easternor subduction zone in the southern part of Yogyakarta. Map of seismic microzonation is needed for infrastructure development considerations or buildings resistant to earthquakes. The use of this map is expected to reduce the impact of risks that may be posed. In mid-2014 measurements of shear wave velocity (Vs30) in Yogyakarta has been carried out, especially in the districts of Bantul and Sleman. Measurements were made on the 55 points spread in the two districts with the distance between the points is 1 to 5 km apart. Vs30 is one of the parameters used in the microzonation maps. Vs30 measurements using Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW) method. It is acquired using 24 geophones of the vertical component with the frequency of 4.5 Hz. The values provide information of the classification of the soil surface to a depth of 30 meters. Results and interpretation of Vs30 value indicates that the city center of Yogyakarta has intermediate risk with relatively large possibility of seismic wave amplification with the values of Vs30 ranging between 115-175 m/s. The Building Construction in this region are strongly recommended to follow the regulation or building code of SNI 1726-2012. Whereas the region which has a solid surface soil classification with the average Vs30 values between 350-480 m/s is the districts of Kretek, Sanden, Pandak and Bambanglipuro. This region could potentially attenuate the seismic wave, hence they have relatively low risk for the damages due to strong earthquakes.


Kata Kunci


Klasifikasi site;mikrozonasi;Vs30;MASW

Teks Lengkap:

PDF

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.