ANALISIS SPASIAL DAN TEMPORAL DATA LIGHTNING DETECTOR TAHUN 2009-2015 DI STASIUN GEOFISIKA SANGLAH DENPASAR

I Putu Dedy Pratama, Pande Komang Gede Arta Negara

Sari


Tahun 2016 dicanangkan sebagai Tahun Data BMKG. Pengamatan kelistrikan udara dengan Lightning Detector di Stasiun Geofisika Sanglah Denpasar sejak bulan Agustus 2008 telah memiliki data yang banyak. Untuk jangka panjang, data tersebut dapat digunakan untuk mengetahui pola sambaran petir wilayah Bali baik secara spasial maupun temporal. Jumlah data yang cukup banyak perlu dilakukan analisis lebih lanjut untuk mengetahui pola sambaran petir yang terekam oleh sensor dan membuat perbandingan dengan citra satelit. Data yang digunakan adalah hasil rekaman petir Cloud to Groud (CG). Data petir CG digunakan karena sambaran petir CG merupakan sambaran petir yang berdampak langsung pada kehidupan manusia. Pemetaan spasial baik dalam penentuan lokasi sambaran CG pada klaim asuransi dan kejadian Mesoscale Convective System (MCS) pada daerah stratiform dari data citra satelit Multifunctional Transport Satellites (MTSAT) dan National Oceanic and Atmospheric Administrastion (NOAA). Dari hasil pemetaan spasial menunjukan bahwa sebagian besar sambaran petir terkonsentrasi pada radius sekitar 50 km dari sensor. Untuk grafik temporal menunjukan bahwa pada musim penghujan grafik petir menunjukan pola semidiurnal dengan dua puncak pada sore hari dan dinihari. Ketika musim peralihan grafik puncak sambaran petir pada dinihari melemah sehingga tampak pola satu puncak diurnal. Sedangkan pada musim kemarau grafik sambaran petir menunjukan pola acak. Fenomena cuaca skala menengah seperti siklon tropis dan perubahan Indeks Nino 3.4 sangat berpengaruh terhadap aktivitas sambaran petir di wilayah Bali.


The year 2016 was declared as the Year of Data BMKG. Since August 2008, observations the air electricity using Lightning Detector Sanglah Denpasar Geophysics Station have had a lot of data. For the long term, these data can be used to determine the pattern of lightning strikes on Bali region both spatially and temporally. The amount of data is pretty much needs to be done further analysis to determine the pattern of lightning strikes recorded by the sensor and make comparisons with satellite imagery. The data used is the recording lightning Cloud to Groud (CG). We used the CG lightning data because CG lightning strikes have a direct impact on human life. Spatial mapping both in determining the location of CG strikes on insurance claims and the incidence of Mesoscale Convective System (MCS) in stratiform regions of the Multifunctional Transport Satellites (MTSAT) and National Oceanic and Atmospheric Administrastion (NOAA) satellite image data. From the results of spatial mapping showed that most lightning strikes concentrated in a radius of about 50 km from the sensors. For temporal graph shows that in the rainy season, lightning graph shows semidiurnal pattern with two peaks at dusk and dawn. When transitional season chart peak at dawn lightning strikes weakened so that it appears the pattern of the diurnal peaks. Whereas in the dry season chart show a random pattern of lightning strikes. Medium-scale weather phenomena such as tropical cyclones and Nino index 3.4 changes greatly affect the activity of lightning strikes in the area of Bali.

Kata Kunci


Lightning Detector, CG, data, lightning, Bali

Teks Lengkap:

PDF

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.