PEMODELAN INUNDASI TSUNAMI DI SEPANJANG PESISIR MANADO AKIBAT GEMPABUMI M8,5 DI ZONA SUBDUKSI SULAWESI UTARA

Robert Owen Wahyu, Rignolda Djamaluddin, Gybert E. Mamuaya, Tatok Yatimantoro, Priyobudi Priyobudi

Abstract


Zona subduksi Sulawesi Utara merupakan kawasan tektonik yang sangat aktif. Seismisitas yang tinggi di wilayah ini disebabkan oleh zona subduksi Sulawesi utara, zona subduksi lempeng laut Maluku dan juga sesar-sesar lokal. Kota Manado terletak di sebuah teluk di pesisir utara Sulawesi. Kondisi ini membuat Kota Manado sangat rentan terhadap bahaya tsunami. Pemodelan inundasi tsunami dilakukan untuk memperkirakan potensi bencana tsunami. Gempabumi dengan magnitude Mw 8.5 digunakan untuk memperkirakan dampak tsunami terburuk. Pemodelan numerik tsunami dilakukan dengan menggunakan TUNAMI-N3 dengan grid bersarang (nested grid). Data batimetri dari GEBCO 1 arcsec dan data topografi dari SRTM 1 arcsec digunakan dalam perhitungan model. Resolusi grid ditingkatkan secara bertahap melalui 6 grid bersarang. Virtual tide gauge dibuat untuk melihat karakter gelombang tsunami di 7 titik sepanjang pantai Manado. Tsunami menggenangi wilayah pantai Manado antara 0,5 hingga 1,2 km ke darat. Ketinggian tsunami maksimum akibat skenario gempa ini adalah 18 meter. Waktu tiba tsunami di pantai sekitar 17 menit setelah gempabumi terjadi.

 

North Sulawesi subduction zone is a very active seismic region. Manado directly faces the subduction zone and therefore made the city prone to tsunami hazards. To the best of our knowledge, there has been no research on how big a threat is a tsunami in Manado. A tsunami inundation modeling was performed to estimate the potential threat of a tsunami in the city. An earthquake with a magnitude of M8.5 represented the worst-case scenario of the tsunami. The numerical model for the tsunami modeling used in this study was TUNAMI-N3 with nested grids. For tsunami calculation, 1 arc-minute GEBCO bathymetric data and 1 arc-second SRTM topographic data were used. Several virtual tide gauge locations were set to detect wave characteristics of the tsunami along the coast of Manado. The results showed that the inundation distance varied from 500 to 1200 meters inland, the tsunami wave height varied from 8 to 18 meters, and tsunami arrived at a coastal area within 17 minutes after the earthquake. According to this inundation model, the tsunami-prone area in Manado might extend up to 500-1200 meters inland near the coastal areas. Local government should have tsunami inundation maps generated using detailed topographic data that will be useful for evacuation plans in case of a tsunami.


Keywords


zona subduksi; tsunami; m8,5; inundasi; Manado



DOI: http://dx.doi.org/10.31172/jmg.v19i1.448

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


PUBLISHED BY:

Pusat Penelitian dan Pengembangan

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

» http://puslitbang.bmkg.go.id/jmg


Jurnal Meteorologi dan Geofisika

e-ISSN : 2527-5372

p-ISSN : 1411-3082

 

Address : 

Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720

» Phone : (+6221) 4246321 ext 1900

» Fax :(+6221) 65866238

Email Coordinatorthomas.hardy@bmkg.go.id


Plagiarism Tools

     

  Creative Commons License

Jurnal Meteorologi dan Geofisika is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

INDEXING

 

JMG Indexed by: