SEACLID/CORDEX-SEA

February 1, 2018 1:07 pm Published by

Latar Belakang

Asia Tenggara, sebuah kawasan dengan jumlah populasi lebih dari 500 juta jiwa diperhitungkan sebagai salah satu kawasan dengan tingkat kerentanan tinggi sebagai akibat dari terjadinya perubahan iklim. Sebagai salah satu kewajiban negara untuk mempersiapkan adaptasi perubahan iklim, ketersediaan skenario perubahan iklim beresolusi tinggi adalah syarat utama dalam melakukan berbagai kajian berbasis dampak. Namun, seringkali berbagai kajian terkendala oleh ketersediaan data skenario perubahan iklim beresolusi tinggi yang mutakhir, mudah dan bebas diakses. Untuk memperoleh produk data beresolusi tinggi yang diturunkan dari luaran General Circulation Model (GCM) diperlukan proses downscaling dinamis menggunakan Regional Climate Model (RCM), yang memakan waktu dan memerlukan sumberdaya komputasi tinggi.

Agar dapat memperhitungkan ketidakpastian dari setiap model dan skenario emisi gas rumah kaca (Representative Concentration Pathways, RCP), proses downscalingharus melibatkan banyak GCM dan RCP. Hal ini merupakan suatu tantangan besar jika harus dilakukan oleh suatu negara atau institusi di kawasan Asia Tenggara. Merupakan suatu fakta bahwa kawasan Asia Tenggara sedikit tertinggal dalam aktivitas downscaling regional dan karenanya memiliki perbedaan yang signifikan dalam ilmu pengetahuan, sebagaimana diindikasikan dalam laporan Working Group 1 AR5, IPCC. Proses downscaling di kawasan Asia Tenggara dapat diimplementasikan dalam bentuk pembagian tugas diantara negara-negara di kawasan ini. Pendekatan ini dapat mengurangi konsumsi waktu dan sumberdaya komputasi.

Hal inilah yang kemudian melatarbelakangi berdirinya kerjasama Southeast Asia Regional Climate Downscaling (SEACLID). SEACLID adalah proyek kerjasama pertama di kawasan Asia Tenggara dengan tema regional climate downscaling. Sebelum berdirinya SEACLID, kawasan Asia Tenggara masuk ke dalam domain CORDEX East Asia. Namun, tidak ada satu pun negara di kawasan Asia Tenggara yang terlibat secara langsung dalam kegiatan ini. SEACLID diinisiasi sebagai proyek kerjasama dalam melakukan proses downscaling. Kerjasama ini berada di bawah Southeast Asia Regional Climate Initiative (SEARCI), sebuah wadah bagi ilmuwan di kawasan Asia Tenggara untuk berkolaborasi dalam berbagai kerjasama di bidang iklim. Negara-negara yang menginisiasi kerjasama ini adalah Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, Kamboja dan Laos.

SEARCI secara informal didirikan bertepatan dengan penyelenggaraan workshop di VNU Hanoi University of Science, tanggal 2-3 Agustus 2012. SEACLID terutama didanai oleh program ARCP Asia-Pacific Network (APN)dan grup yang terlibat di dalam proyek kerjasama ini. Untuk tahun kedua dan ketiga, kerjasama ini tetap didanai oleh APN.

Karena memiliki kesamaan topik, SEACLID diintegrasikan ke dalam World Climate Research Programme (WCRP): Coordinated Regional Climate Downscaling Experiment (CORDEX), dan dirubah namanya menjadi SEACLID/CORDEX Southeast ASIA (CORDEX-SEA) dengan Prof. Fredolin Tangang dari National University of Malaysia sebagai Project Leader/Coordinator. WCRP merupakan sebuah lembaga yang berada di bawah naungan World Meteorological Organization (WMO), International Council for Science (ICSU) dan Intergovernmental Oceanographic Commission (IOC)-UNESCO.

Sebagai tambahan negara anggota SEACLID/CORDEX-SEA, sejumlah kolaborator dari beberapa negara, seperti: Australia, Inggris, Korea Selatan, Hongkong, Swedia, Jerman, dan Jepang turut bergabung dalam proyek ini. Hingga saat ini, SEACLID/CORDEX-SEA terdiri atas 14 negara dan 19 institusi. Kontribusi yang dilakukan oleh sejumlah kolaborator berupa bantuan melakukan downscaling sejumlah GCM.

Tujuan SEACLID/CORDEX-SEA adalah melakukan downscaling sejumlah GCM dari CMIP5 untuk wilayah Asia Tenggara berdasarkan pembagian tugas diantara negara-negara dan institusi yang terlibat. Hasil downscaling berupa data skenario perubahan iklim resolusi tinggi (25×25 km) untuk wilayah Asia Tenggara yang disimpan dan didiseminasikan secara cuma-cuma kepada user melalui Earth System Grid Federation (ESGF) sebagaimana implementasi kebijakan data yang dilakukan oleh CORDEX dan APN.

SEACLID/CORDEX-SEA juga menyediakan platform untuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan pelatihan untuk peneliti muda dari kawasan ini. Produk SEACLID/CORDEX-SEA diharapkan dapat meningkatkan pemahaman ilmiah mengenai perubahan iklim dan kajian mengenai dampak perubahan iklim di kawasan Asia Tenggara, yang pada akhirnya akan dihasilkan banyak publikasi ilmiah dengan tema perubahan iklim, dampak dan aspek-aspek lain yang terkait dengan kebijakan. Selain itu, negara-negara di kawasan Asia Tenggara dapat memformulasikan strategi adaptasi dan mitigasi terkait perubahan iklim berdasarkan bukti-bukti ilmiah menuju ketahanan iklim yang berkelanjutan.

Kontributor

Hingga saat ini ada sejumlah 18 institusi dari 14 negara (7 negara berasal dari kawasan Asia Tenggara dan 7 negara non Asia Tenggara) yang terlibat di dalam kerjasama SEACLID/CORDEX SEA ini. Berikut ini merupakan daftar negara, institusi dan contact person yang terlibat dalam CORDEX-SEA.

NEGARAINSTITUSICONTACT PERSON
MalaysiaUniversiti Kebangsaan Malaysia
National Hydraulic Research Institute of Malaysia (NAHRIM)
Malaysian Meteorological Department (MMD)
Prof. Dr. Fredolin Tangang (UKM)
Dr. Liew Juneng (UKM)
Mr. Mohd Syazwan Faizal (NAHRIM)
Mr. Zubaidi Johar (NAHRIM)
Mr. Ling Leong Kwok (MMD)
Mr. Kumarathan Subramaniam (MMD)
IndonesiaIndonesian Agency for Meteorology, Climatology & Geophysics (BMKG)Prof. Dr. Edvin Aldrian
Dr. Dodo Gunawan
Dr. Ardhasena Sopaheluwakan
VietnamVietnam National University, Hanoi University of Science (VNU HUS)
University of Science and Technology of Hanoi (USTH)
Prof. Phan Van Tan (HUS)
Dr. Thanh Ngo-Duc (USTH)
ThailandRamkhamhaeng University (RU)
Chulalongkorn University (CU)
Asst Prof. Dr. Jerasorn Santisirisomboon (Ramkhamhaeng Univ)
Dr. Patama Singhruck (Chulalongkorn Univ)
FilipinaAteneo de Manila University (ADMU)
Manila Observatory (MO)
Assoc. Prof. Dr. Gemma Narisma
Dr. Faye Cruz
Kamboja Pannasastra University of Cambodia (PUC)Mr. Sao Sythoun(PUC)
Mr. Rattana Chhin
LaosDepartment of Meteorology and Hydrology (DMH)Mrs. Bouangeun Oudomdchit
AustraliaCSIRODr. John McGregor
InggrisHadley Centre, UKMOMr. David Hein
Korea Selatan Apec Climate Center (APCC)Dr.Hongwen Yang
HongkongThe Chinese University of Hong Kong (CUHK)Dr. Chi Yung Francis Tam
SwediaSwedish Meteorological Hydrological Institute (SMHI)Dr. Nikulin Grigory
JermanClimate Service Center Germany (GERICS)Dr. Armelle Reca C. Remedio
JepangMeteorological Research Institute (MRI)Dr. Hidetaka Sasaki

General Circulation Model (GCM) & Representation Concentration Pathways (RCP)

General Circulation Model (GCM) adalah model numerik yang merepresentasikan proses fisis di atmosfer, laut, kriosfer dan daratan. GCM merupakan suatu metode modern yang tersedia saat ini untuk mensimulasikan respon sistem iklim dunia terhadap peningkatan gas rumah kaca. Sejumlah simulasi GCM telah dijalankan oleh berbagai negara sebagai bagian dari proyek penelitian WCRP: Fifth Coupled Models Inter-comparison Project (CMIP5), dimana hasil simulasi dapat diunduh dari situs web CMIP5. Untuk SEACLID/CORDEX-SEA, negara-negara di kawasan Asia Tenggara menggunakan luaran GCM yang terdapat di Abdus Salam International Centre for Theoretical Physics (ICTP), Trieste, Italia. Dalam rangka mensimulasikan GCM hingga masa yang akan datang, diperlukan pula data radiative forcing dari emisi gas rumah kaca di masa yang akan datang. Data ini dihasilkan dari berbagai hipotesis emisi yang telah dikelompokkan. Dalam Assessment Report 5, IPCC telah menetapkan 4 kelompok hipotesis emisi yang dikenal sebagai Representative Concentration Pathway 8.5 (RCP8.5), RCP6.0, RCP4.8 and RCP2.6. Gambar di bawah mengilustrasikan skema keempat RCP tersebut. Namun, dalam kerjasama SEACLID/CORDEX SEA ditentukan hanya 2 RCP yang akan disimulasikan, yaitu RCP8.5 dan RCP4.5.

Domain & Resolusi

SEACLID/CORDEX-SEA awalnya menggunakan domain 80E-145E dan 15S-40N, resolusi 36 km. Sensitivity experiment dijalankan menggunakan domain dan resolusi ini. Domain ini meliputi dataran tinggi Tibet di sebelah barat-laut. Sebagaimana ditunjukkan kemudian pada hasil sensitivity experiment, keberadaan dataran tinggi Tibet seringkali menyebabkan ketidakstabilan numerik pada hasil simulasi. Oleh karena itu, ditentukanlah domain baru pada koordinat 90E-145E dan 15S-27N. Agar hasil simulasi relevan terhadap bentuk dan luasan pulau-pulau di dalam domain baru, maka resolusi model juga ditingkatkan hingga 25 km.

Sensitivity Experiment

Model yang digunakan pada proses downscaling ini adalah RegCM4. Model ini menyediakan pilihan kombinasi konfigurasi skema fisis dan parameterisasi. Pilihan kombinasi tergantung pada luasan domain dan resolusi yang digunakan. Dalam kegiatan SEACLID/CORDEX-SEA, sensitivity experiment dilakukan pada masa awal untuk menentukan pilihan kombinasi terbaik antara skema fisis untuk parameterisasi Cumulus dan Ocean Fluxes.
Pada sensitivity experiment Data NCEP ERAint reanalysis periode 20 tahun (1980-2005) disimulasikan menggunakan RegCM4, hasilnya diverifikasi dengan data observasi. Simulasi ini dibagi bersama diantara negara-negara anggota SEACLID/CORDEX-SEA. Hasil awal dipaparkan saat Workshop SEACLID/CORDEX-SEA pertama di Jakarta, Indonesia. Hasil lengkapnya dipaparkan saat Workshop kedua di Bangkok, Thailand. Pada saat yang sama, ditetapkan pula pilihan kombinasi parameterisasi fisis, domain dan resolusi yang akan digunakan untuk memproyeksikan iklim masa depan.

Pelaksanaan SEACLID/CORDEX-SEA

Sebagai bagian dari kesepakatan, proses downscaling dibagi diantara negara-negara yang terlibat. Selain itu, ditentukan pula tugas lainnya untuk melakukan analisis dalam konteks regional atau negara. Tabel di bawah ini merupakan pembagian tugas downscaling diantara negara-negara yang terlibat di dalam proyek SEACLID/CORDEX-SEA.

NEGARAGCMNEGARA/INSTITUSI PENGEMBANG GCM RCPRCM
VietnamCNRM-CM5 Centre national de Recherches Meteorologiques, FranceRCP8.5, 4.5RegCM4
FilipinaHadGEM2Hadley Centre, UK RCP8.5, 4.5RegCM4
ThailandMPI-ESM-MR Max Planck Institute for Meteorology, Germany RCP8.5, 4.5 RegCM4
ThailandEC-Earth EC-Earth consortium RCP8.5, 4.5 RegCM4
IndonesiaCSIRO MK3.6 CSIRO, AustraliaRCP8.5, 4.5 RegCM4
MalaysiaCanESM2Canadian Centre for Climate Modeling and Analysis, CanadaRCP8.5, 4.5 RegCM4
MalaysiaIPSL-CM5A-LR Institute Pierre-Simon Laplace, FranceRCP8.5, 4.5RegCM4
MalaysiaGFDL-ESM2M GFDL, USARCP8.5, 4.5RegCM4
AustraliaCNRM-CM5Centre national de Recherches Meteorologiques, France RCP8.5CCAM
AustraliaCCSM4NCAR, USARCP8.5CCAM
AustraliaACCESS1.3CSIRO, AustraliaRCP8.5CCAM
HongkongCCSM4 / CESMNCAR, USA RCP8.5, 4.5WRF
InggrisHadGEM2-ESHadley Centre, UKMO RCP8.5, 4.5PRECIS
Korea Selatan HadGEM2-AOHadley Centre, UKMO RCP8.5, 4.5WRF
SwediaHadGEM2-ESHadley Centre, UKMO RCP8.5, 4.5RCA4
SwediaCNRM-CM5Centre national de Recherches Meteorologiques, France RCP8.5, 4.5RCA4
Jerman MPI-ESM-LRHadley Centre, UKMO RCP8.5, 4.5ROM

Categorised in:

This post was written by Puslitbang BMKG Klimatologi

Comments are closed here.